Daftar Blog Saya

Sabtu, 09 April 2011

desain kurikulum

Ada beberapa Pengertian Desain Kurikulum menurut para ahli, diantaranya adalah :
 
1) Menurut Oemar Hamalik (1993) pengertian Desain adalah suatu petunjuk yang memberi dasar, arah, tujuan dan teknik yang ditempuh dalam memulai dan melaksanakan kegiatan. Fred Percival dan Henry Ellington (1984)
2) Menurut Nana S. Sukmadinata (2007:113) desain kurikulum adalah menyangkut pola pengorganisasian unsur-unsur atau komponen kurikulum. Penyusunan desain kurikulum dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi horizontal dan vertikal. Dimensi horizontal berkenaan dengan penyusunan dari lingkup isi kurikulum. Sedangkan dimensi vertikal menyangkut penyusunan sekuens bahan berdasarkan urutan tingkat kesukaran.
3) Menurut Longstrteet (1993) Desain kurikulum ini merupakan desain kurikulum yang berpusat pada pengetahuan (the knowledge centered design) yang dirancang berdasarkan struktur disiplin ilmu, oleh karena itu model desain ini dinamakan juga model kurikulum subjek akademis yang penekanannya diarahkan untuk pengembangan itelektual siswa. 
4) Menurut Mc Neil (1990)Desain kurikulum ini berfungsi untuk 
mengembangkan proses kognitif atau pengembangan kemampuan berfikir siswa melalui latihan menggunakan gagasan dan melakukan proses penelitian ilmiah.

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Desain kurikulum merupakan suatu pengorganisasian tujuan, isi, serta proses belajar yang akan diikuti siswa pada berbagai tahap perkembangan pendidikan. Dalam desain kurikulum akan tergambar unsur-unsur dari kurikulum, hubungan antara satu unsur dengan unsur lainnya, prinsip­prinsip pengorganisasian, serta hal-hal yang diperlukan dalam pelaksa­naannya.

Prinsip-prinsip dalam mendesain
Saylor (Hamalik:2007) mengajukan delapan prinsip ketika akan mendesain kurikulum, prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1) Desain kurikulum harus memudahkan dan mendorong seleksi serta pengembangan semua jenis pengalaman belajar yang esensial bagi pencapaian prestasi belajar, sesuai dengan hasil yang diharapkan.
2) Desain memuat berbagai pengalaman belajar yang bermakna dalam rangka merealisasikan tujuan–tujuan pendidikan, khususnya bagi kelompok siswa yang belajar dengan bimbingan guru;
3) Desain harus memungkinkan dan menyediakan peluang bagi guru untuk menggunakan prinsip-prinsip belajar dalam memilih, membimbing, dan mengembangkan berbagai kegiatan belajar di sekolah;
4) Desain harus memungkinkan guru untuk menyesuaikan pengalaman dengan kebutuhan, kapasitas, dan tingkat kematangan siswa
5) Desain harus mendorong guru mempertimbangkan berbagai pengalaman belajar anak yang diperoleh diluar sekolah dan mengaitkannya dengan kegiatan belajar di sekolah.
6) Desain harus menyediakan pengalaman belajar yang berkesinambungan, agar kegiatan belajar siswa berkembang sejalan dengan pengalaman terdahulu dan terus berlanjut pada pengalaman berikutnya.
7) Kurikulum harus di desain agar dapat membantu siswa mengembangkan watak, kepribadian, pengalaman, dan nilai-nilai demokrasi yang menjiwai kultur.
8) Desain kurikulum harus realistis, layak, dan dapat diterima.

Jenis kurikulum
Menurut Longstrreet & Shane,1993) ada 4 macam desain Kurikulum :
1) The Society – Oriented curriculum. Ada beberapa ciri dari desain kurikulum ini :
· Tujuan utama kurikulum ini adalah mengharapkan para siswa pada tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia.
· Kegiatan belajar dipusatkan pada masalah-masalah sosial yang mendesak.
· Isi kurikulum berupa masalah-masalah sosial yang dihadapi peserta didik.
· Tujuannya disusun berdasarkan kebutuhan, kepentingan dan kemampuan peserta didik.
· Inti-inti bahan ajar dipusatkan pada kebutuhan individual dan sosial.
· Memberikan penilaian yang sifatnya kritis dari sudut sistem nilai sosial dan pribadi yang berbeda.

2) The Child – centered curriculum. Ciri – cirinya adalah sebagai berikut :
· Bertolak dari asumsi bahwa peserta didik adalah yang pertama dan utama dalam pendidikan.
Peserta didik adalah subjek yang menjadi pusat kegiatan 
· pendidikan, yang mempunyai potensi, kemampuan, dan kekuatan untuk berkembang.
· Prioritas kurikulum ini adalah pengalaman belajar yang diarahkan terhadap tanggapan minat, kebutuhan, dan kemampuan siswa.
· Pendidikan ini diarahkan kepada pembinaan manusia yang utuh, bukan saja segi fisik dan intelektual, tetapi juga segi social dan afeksi (emosi, sikap, perasaan, nilai, dan lain-lain).
· Pendidikan lebih menekankan bagaimana siswa (mendorong siswa), dan bagaimana merasakan atau bersikap terhadap sesuatu.
· Lebih mementingkan proses dari pada hasil.
· Sasaran utama kurikulum jenis ini adalah bagaimana memaksimalkan perkembangan anak supaya menjadi manusia yang mandiri.
· Partisipasi siswa dalam proses belajar memungkinkan mereka saling berinteraksi dengan siswa lain, menumbuhkan sikap tanggungjawab, menghargai orang lain, dan lain-lain. Dengan interaksi tersebut diharapkan tumbuh rasa kebersamaan yang menumbuhkan sikap integrasi dalam pemikiran, perasan dan tindakan.

3) The Knowledge – centered curriculum. suatu desain kurikulum yang berpusat pada bahan ajar, merupakan bentuk desain yang paling tua dan paling banyak digunakan sampai sekarang. Kurikulum dipusatkan pada isi atau materi yang diajarkan, kurikulum disusun atas sejumlah mata pelajaran dan diajarkan secara terpisah-pisah (Sapared subject curriculum). Desain kurikulum ini menekankan pada penguasaan pengetahuan, isi, nilai-nilai dan warisan budaya masa lalu dan berupaya untuk diwariskan kepada generasi berikutnya, maka desain ini disebut juga “Subject Academic Curriculum”.
Dalam desain ini terdapat kelebihan dan kelemahannya, kelebihan desain ini yaitu:
1 Mudah disusun, dilaksanakan dievaluasi dan disempurnakan
2 Para pengajar tidak perlu dipersiapkan khusus, bila dipandang menguasai ilmu atau bahan ajar, maka dipadang sudah dapat menyampaikannya.

Dan kelemahannya yaitu:
1 Karena pengetahuan diberikan secara terpisah-pisah, hal ini bertentangan bahwa pengetahuan merupakan satu kesatuan.
2 Peran serta anak didik sangat pasif karena mengutamakan bahan ajar.
3 Pengajaran lebih menekankan pengetahuan dan kehidupan masa lalu.
4 Pengajaran bersifat verbalistis dan kurang praktis.
4. The electic – curriculum (akan dibahas selanjutnya)

Analisis Desain kurikulum yang tepat bagi Pendidikan Luar Biasa
Dari uraian diatas tentang Jenis-jenis kurikulum, penulis berpendapat bahwa desain kurikulum yang tepat untuk Pendidikan Luar biasa adalah dengan menggunakan jenis The Electic – curriculum.

The Electic – Curriculum
Jenis desain kurikulum ini menunjuk kepada isi kurikulum berdasarkan pada prinsip atau doktrin yang berbeda – beda. Misalnya : kurikulum harus disesuaikan dengan anak (child centered curriculum), tapi juga berpandangan bahwa anak harus belajar pelajaran tertentu yang dianggap penting.
Sifat dari kurikulum ini adalah menggabungkan beberapa jenis desain kurikulum yang dianggap perlu bagi peserta didik guna mensukseskan tujuan pendidikan.
Beberapa hal penting yang dapat disimpulkan dari The Electic curriculum adalah :
Kurikulum berdasarkan prinsip bahwa siswa memiliki posisi sentral untuk mengembangkan 
a. kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi siswa disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan siswa serta tuntutan lingkungan. Memiliki posisi sentral berarti kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa.
b. Kurikulum memperhatikan keragaman karakteristik siswa, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan.
c. Kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
d. Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan denganmuatan seluruh bahan kajian secara optimal.

Implementasi The Electic curriculum dalam praktek PLB
Dalam dunia Pendidikan Luar Biasa dewasa ini, sangatlah sulit untuk di-implementasikan-nya The Electic curriculum. Banyak hal yang menjadikan jenis kurikulum tersebut menjadi terhambat. Beberapa faktor tersebut adalah :
1. Faktor Kepemerintahan yang mengatur Kurikulum. Setiap negara mempunyai kurikulum sendiri yang didasari demi kemajuan atau perkembangan peserta didik sebagai penerus bangsanya. Namun, seringkali PLB menjadi tidak di prioritaskan. Sebagai contoh: di Indonesia ini, kurikulum seringkali berganti. Satu kurikulum sedang berjalan sudah diganti dengan model kurikulum lainnya seiiring dengan pergantian Menteri. Dalam pembentukan isi kurikulum tersebut, semua jenis ”kebutuhan khusus” disamakan. Padahal setiap jenis kebutuhan khusus beda satu sama yang lainnya. Itu bisa dilihat dari KTSP dalam Standar kompetensi dan Kompetensi Dasarnya.
2. Sumber Daya Pendidik. Dalam dunia PLB, pendidik seringkali merasa bosan dengan peserta didiknya. Dalam banyak hal, Rancangan Perencanaan Pembelajaran  yang dibuat para pendidik hanya sebagai tulisan hitam diatas putih atau dengan kata lain hanya sebagai formalitas saja.

Namun disamping hambatan-hambatan diatas, banyak juga terdapat keberhasilan-keberhasilan yang telah tercapai. Sebagai contoh : beberapa peserta didik berkebutuhan khusus yang mampu berhasil dan berprestasi. Keberhasilan mereka tersebut didukung oleh The Electic curriculum. Karena sekolah mencoba untuk mendesain kurikulumnya sendiri demi kemajuan peserta didiknya. Kita lihat saja seorang anak Autis yang bernama Kharisma Rizki Pradana. Ia bersekolah di SLBN Semarang. Berbagai prestasi ia raih hingga memecahkan rekor MURI karena hafal
bernyanyi 600 lagu. Menurut kepala sekolahnya, Bapak Ciptono (alumni UNY), Kharisma mendapat pembelajaran yang berbeda dengan teman-temannya. Kurikulum yang digunakan secara terpilih dan tepat sehingga sangat berguna bagi perkembangan diri Kharisma.

Bahan Pustaka :
1. Sanjaya.Wina. Pembelejaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.Edisi II.  Jakarta;: Prenada Media 2006.
2. Sukmadinata, Nana Sy. Pengembangan Kurikulum: Teori dan  Parktek.  Bandung : PT Remaja Rosdakarya 2001.
3. Joko susilo, muhammad, Kurikulun Tingkat Satuan Pendidikan, Pustaka Pelajar, yogyakrta, 2007
Ahmad, Dkk, Pengembangan Kurikulum, Pustaka Setia, Bandung 1998



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar